Sebuah Drama Musikal Ujian Akhir Semester Sejarah Kekristenan Asia–Indonesia
Diselenggarakan oleh mahasiswa/i Program Studi Teologi angkatan 2024 STT Bethel Indonesia
Mata Kuliah diampu oleh Dr. Anggi Maringan Hasiholan Tambunan
Program Studi Teologi 2024 STT Bethel Indonesia mempersembahkan sebuah drama musikal historis sebagai bentuk Ujian Akhir Semester dari mata kuliah Sejarah Kekristenan Asia–Indonesia yang diampu oleh Dr. Anggi Maringan Hasiholan Tambunan. Dalam karya ini, para mahasiswa/i menghadirkan kembali sejarah Kekristenan di Indonesia dengan gaya yang lebih segar, kreatif, dan menyentuh, sehingga narasi yang selama ini hanya dibaca dalam buku kini dapat dihidupkan di atas panggung.
Drama musikal ini mengangkat kisah luar biasa dari Guru Petrus Kafiar, tokoh penting dalam sejarah gereja di Tanah Papua. Petrus Kafiar—yang nama aslinya Norseni—adalah seorang anak Papua yang pada masa kecilnya pernah diperlakukan sebagai budak akibat praktik perdagangan manusia yang marak di wilayah Maluku–Papua pada abad ke-19 dan perang suku yang marak di Papua. Namun melalui anugerah Tuhan dan perjumpaannya dengan para guru injil dan Zending Belanda, Norseni diselamatkan, dididik, dibaptis, dan diberi nama baru: Petrus Kafiar.
Setelah mendapatkan pendidikan dan pembinaan iman, Petrus Kafiar menjadi guru injil pertama dari Papua. Ia kemudian diutus untuk membawa kabar keselamatan ke berbagai wilayah, termasuk:
Pulau Mansinam (pusat awal penyebaran Injil di Papua),
Daerah Sentani,
Kampung-kampung pesisir di Teluk Yotefa dan sekitarnya,
Serta berbagai komunitas lokal yang mulai membuka diri terhadap pendidikan dan penginjilan.
Melalui pelayanannya, Petrus Kafiar memperkenalkan baca-tulis, pendidikan dasar, etika Kristen, dan pengajaran Alkitab kepada masyarakat Papua. Kehadirannya menjadi jembatan penting bagi transformasi sosial, budaya, dan rohani di wilayah tersebut, menjadikannya salah satu figur kunci dalam sejarah Kekristenan Indonesia.
Drama musikal ini menampilkan perjalanan hidupnya mulai dari masa perbudakan, pertobatan, pendidikan, hingga pengutusannya sebagai pembawa Injil, diperkaya dengan musik tradisional Papua, harmoni modern, dan adegan teater yang menggugah hati.
Karya ini merupakan bukti bahwa para mahasiswa/i Teologi 2024 STT Bethel Indonesia mampu menerjemahkan sejarah gereja menjadi pengalaman artistik yang hidup—yang tidak hanya informatif, tetapi juga menginspirasi dan menegaskan kembali bagaimana Injil bekerja melalui kehidupan seorang anak Papua bernama Norseni—Petrus Kafiar.









