E-CHRIST: 7 NILAI HIDUP SEKOLAH TINGGI TEOLOGI BETHEL INDONESIA

Sebagai lembaga pendidikan teologi Pentakostal-Kharismatik yang berkomitmen melahirkan pendeta, gembala, dan guru untuk melayani Gereja Bethel Indonesia (Sinode GBI) dan tubuh Kristus yang lebih luas, Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia mendasarkan seluruh proses akademis dan pembentukan karakternya pada tujuh nilai inti yang terangkum dalam akronim E-CHRIST. Nilai-nilai ini bukan sekadar slogan, melainkan core values yang menjiwai seluruh sivitas akademika, dari jenjang Sarjana hingga Doktoral, serta alumni.

E – Excellence (Unggul)

  • Dalam Akademik: Lulusan Sarjana (S.Th.) memiliki fondasi teologi yang kokoh dan keterampilan pelayanan dasar yang unggul. Lulusan Magister (M.Th.) mampu melakukan analisis teologis yang kritis dan mendalam. Lulusan Doktor (D.Th.) diharapkan menghasilkan riset orisinal yang memberikan kontribusi signifikan bagi pemikiran teologi Pentakostal-Kharismatik secara global. Keunggulan ini tercermin dalam kurikulum yang relevan, proses belajar-mengajar yang berkualitas, dan akreditasi institusi.
  • Dalam Pelayanan: Seorang gembala, pendeta, atau guru dari STTBI tidak melayani dengan asal-asalan. Persiapan khotbah dilakukan dengan riset eksegesis yang cermat, penggembalaan jemaat dijalankan dengan strategi yang bijaksana, dan pengajaran disampaikan dengan penguasaan materi yang mendalam.
  • Dalam Spiritualitas Pentakostal: Keunggulan berarti menatalayani karunia-karunia Roh Kudus dengan penuh tanggung jawab dan dampak maksimal, bukan sekadar manifestasi tanpa arah. Pelayanan kuasa Roh harus diimbangi dengan hikmat dan pengetahuan yang unggul.

 

C – Connected (Terhubung)

Keterhubungan adalah esensi dari kehidupan dan pelayanan Kristen. STTBI mendidik para pelayannya untuk membangun relasi yang sehat dan kuat dalam tiga dimensi.

  • Terhubung dengan Tuhan (Vertikal): Ini adalah fondasi utama. Setiap mahasiswa dan lulusan didorong untuk memiliki kehidupan doa, penyembahan, dan perenungan Firman yang intim. Sebagai seorang Pentakostal, kepekaan terhadap pimpinan Roh Kudus adalah napas kehidupan pelayanan.
  • Terhubung dengan Gereja (Komunitas): Lulusan STTBI tidak menjadi menara gading. Mereka terhubung erat dengan Sinode GBI, memahami visi dan misinya, serta siap melayani kebutuhan gereja-gereja lokal. Mereka juga terhubung dengan sesama alumni dan tubuh Kristus secara luas, membangun jejaring yang saling menguatkan.
  • Terhubung dengan Jemaat dan Masyarakat (Kontekstual): Pelayanan yang relevan lahir dari keterhubungan. Seorang gembala harus mengenal domba-dombanya, memahami pergumulan mereka, dan mampu membawa Injil ke dalam konteks kehidupan mereka sehari-hari.

 

H – Humility (Kerendahan Hati)

Dalam konteks Pentakostal-Kharismatik di mana karunia dan kuasa Roh seringkali tampak, kerendahan hati adalah nilai penyeimbang yang krusial. Ini adalah sikap hati yang meneladani Kristus (Filipi 2:5-8).

  • Bersikap sebagai Pelayan: Lulusan STTBI dididik untuk menjadi pelayan, bukan tuan. Mereka memimpin dengan teladan, mudah dijangkau oleh jemaat, dan tidak mencari pujian bagi diri sendiri.
  • Mau Belajar (Teachable Spirit): Kerendahan hati berarti mengakui bahwa selalu ada hal baru untuk dipelajari, baik dari dosen di jenjang Doktor maupun dari seorang jemaat sederhana. Ini adalah sikap anti-kesombongan intelektual dan spiritual.
  • Mengakui Sumber Kuasa: Setiap mujizat, hikmat, dan keberhasilan pelayanan diakui berasal dari Tuhan. Kerendahan hati menjaga seorang pelayan Tuhan dari kejatuhan akibat kesombongan rohani.

 

R – Responsible (Bertanggung Jawab)

Panggilan pelayanan adalah sebuah kepercayaan agung dari Tuhan yang menuntut pertanggungjawaban.

  • Tanggung Jawab Akademis: Mahasiswa bertanggung jawab menyelesaikan studi dengan keseriusan, mengerjakan tugas dengan jujur, dan menggunakan ilmu yang didapat untuk kemuliaan Tuhan.
  • Tanggung Jawab Pelayanan: Gembala bertanggung jawab atas kesehatan rohani jemaatnya. Pendeta bertanggung jawab atas mimbar yang dipercayakan kepadanya. Guru bertanggung jawab atas kebenaran doktrin yang diajarkannya.
  • Tanggung Jawab Manajerial: Ini mencakup tanggung jawab dalam pengelolaan waktu, keuangan gereja, dan sumber daya lain yang dipercayakan oleh Tuhan melalui jemaat dan sinode.

 

I – Integrity (Integritas)

Integritas adalah kesatuan antara apa yang dikatakan, dipercayai, dan dilakukan. Bagi seorang pelayan Tuhan, integritas adalah modal kepercayaan yang tidak bisa ditawar.

  • Kekudusan Hidup: Integritas dimulai dari kehidupan pribadi yang kudus dan tidak bercela, menjadi “surat Kristus yang terbuka” (2 Korintus 3:2).
  • Konsistensi Karakter: Seorang pelayan Tuhan dari STTBI diharapkan memiliki karakter yang sama baik di atas mimbar, di rumah, maupun di tengah masyarakat. Tidak ada kepribadian ganda.
  • Kejujuran: Integritas mencakup kejujuran dalam segala hal: keuangan, pengakuan dosa, dan dalam berelasi dengan sesama. Ini adalah fondasi utama untuk menjadi gembala dan pemimpin yang dipercaya.

 

S – Smart (Cerdas)

Kecerdasan bagi pelayan Tuhan di STTBI bersifat holistik, melampaui sekadar kecerdasan intelektual.

  • Cerdas Intelektual (IQ): Kemampuan untuk berpikir kritis, logis, dan sistematis. Menguasai hermeneutika, teologi sistematika, dan ilmu-ilmu biblika lainnya untuk dapat menjelaskan dan mempertahankan iman Kristen dengan baik.
  • Cerdas Emosional (EQ): Kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi diri sendiri serta berempati terhadap orang lain. Ini sangat vital dalam tugas penggembalaan dan konseling.
  • Cerdas Spiritual (SQ): Kemampuan untuk memahami pimpinan Roh Kudus, membedakan roh, dan menerapkan hikmat ilahi dalam situasi pelayanan yang kompleks. Ini adalah ciri khas utama teolog dan pelayan Pentakostal-Kharismatik.

 

T – Trustworthy (Dapat Dipercaya)

Nilai ini merupakan puncak dan buah dari semua nilai lainnya. Seorang pelayan Tuhan harus menjadi pribadi yang dapat dipercaya oleh Tuhan, pemimpin, dan jemaat.

  • Dipercaya oleh Tuhan: Setia dalam perkara kecil maupun besar, sehingga Tuhan bisa mempercayakan hal-hal yang lebih besar lagi (Lukas 16:10).
  • Dipercaya oleh Jemaat: Jemaat dapat dengan aman mempercayakan kehidupan rohani, pergumulan pribadi, dan persembahan mereka kepada gembala yang trustworthy. Kepercayaan ini dibangun melalui integritas, tanggung jawab, dan kasih yang tulus.
  • Dipercaya oleh Sinode dan Masyarakat: Lulusan STTBI diharapkan menjadi duta Kristus dan almamater yang reputasinya terjaga, sehingga nama baik Tuhan dan institusi dipermuliakan.