RENUNGAN MINGGU ADVEN 2025: SELAMAT MENGHAYATI LAGI PENANTIAN AKAN KEDATANGAN SANG RAJA

Shalom, Selamat Memasuki Minggu-Minggu Adven --KLIK--

Putri Sion nyanyilah, Soraklah Yerusalem!
Mari sambut Rajamu, Raja damai terimalah.
Putri Sion nyanyilah, Soraklah Yerusalem.

Hosiana Putra Daud, UmatMu berkatilah.
Dirikanlah takhta-Mu, Maha Tinggi Mulia
Hosiana Putra Daud, UmatMu berkatilah

Mari sambut Rajamu, Raja damai terimalah
Putri sion nyanyilah, Soraklah Yerusalem


Dalam sepanjang sejarah dan tradisi Gereja, Gereja tidak hanya memperingati dan merayakan Natal 25 Desember saja, namun juga empat Minggu sebelum Natal, yang disebut Adven. Kata “adven” berasal dari bahasa Latin yang berarti “penantian.”

Kata Natal juga berasal dari bahasa Latin yang berarti “kelahiran”, -merupakan peringatan, penghayatan dan perayaan akan kelahiran Tuhan Yesus, maka adven adalah penghayatan dan perayaan akan masa-masa penantian  kedatangan Yesus, sebelum momen kelahiran-Nya. Itu merupakan momen besar yang berisi pengharapan akan pemenuhan janji Perjanjian Lama, yaitu hadirnya Kerajaan Allah dan juga Raja atas Kerajaan Allah tersebut, yaitu Yesus Kristus. Proses penantian yang dimaksud bukan berarti “menunggu secara pasif” melainkan ‘menyambut/ penyambutan dengan penuh harapan, sukacita, dan kegembiraan’ akan datangnya Sang Raja.

Jangan lupa bahwa sejak kelahiran hingga kematiannya,  kehidupan Yesus selalu dipenuhi dengan ‘drama pembunuhan‘ oleh karena dia adalah ‘Raja.’ -mulai dari Herodes yang terusik karena hadirnya seorang bayi Raja sampai-sampai dia menitahkan untuk dilaksanakan pembunuhan semua bayi laki-laki di Bethlehem (Matius 2:16–18), hingga Pilatus yang menyebut dan membuat tulisan INRI, Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum, -“Yesus, Orang Nazreth, Raja Orang Yahudi,” pada kayu salibnya, -sebuah satir, olokan, ejekan terhadap Yesus. Apalagi ditulis dalam tiga bahasa, bahasa Latin, Ibrani, dan Yunani,  hendak ‘memaksa’ publik kala itu agar tahu bahwa “inilah orang yang dari sejak kelahirannya hingga kematiannya dielu-elukan sebagai raja dan membuat geger hingga mengusik penguasa” (Yohanes 19:19–22). Seminggu sebelum peristiwa penyalibannya pun Yesus disambut begitu rupa, dielu-elukan di Yerusalem dengan palma yang mana itu adalah sambutan kedatangan seorang raja (Matius 21:1–11).

Namun dalam kenyataannya, memang Dialah Raja. –Itulah yang menjadi pokok pemberitaan Perjanjian Baru, yaitu hadirnya Kerajaan Allah, yang tentu dengan Rajanya!

Dia bukanlah raja atas satu kelompok bangsa saja, apalagi sebagai satire, melainkan raja atas semesta.

“Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.’ ”

Matius 28:18

 

Minggu-minggu Adven membawa kita pada sebuah perenungan dan penghayatan lagi, serta sebuah refleksi:

  1. Apakah benar bahwa kita (saya) telah menjadikan Yesus sebagai Raja bagi kehidupan kita (saya), sehingga kita (saya) sadar bahwa oleh karena itu kita (saya) harus selalu mengambil gestur dan gaya hidup seorang pelayan?
  2. Apakah benar bahwa Dia saja satu-satunya subjek pengagungan kita/ saya, di tengah trend gaya hidup spiritual narcissistic dan selfish saat ini?

 

 

Selamat memasuki dan menghayati kembali Minggu-Minggu Adven🎄

 

Andreas Christanto, M.Th
Ketua Program Studi Sarjana Teologi

 

 


Saat ini anda sedang mendengarkan sebuah lagu yang dinyanyikan pada masa Adven, berjudul “Puteri Sion,” Hosana Singer, ©1997 Maranatha Indonesia. Lagu asli adalah dalam bahasa Jerman berjudul “Tochter Zion,” musik/ melodi diciptakan oleh George Frideric Handel (1685–1759), lirik digubah oleh seorang pendeta Lutheran bernama Friedrich Heinrich Ranke (1798–1876), berdasarkan Zakharia 9:9, Mazmur 24:7–10, Yesaya 12:6, Matius 21:4–9.