Kegiatan COF S1-Teologi, Senin, 14 September 2026

COF Teologi melaksanakan kegiatan bersama pada Senin, 14 September 2026, melalui kegiatan nonton film bersama yang bertempat di Ruang Kelas Teologi 2025 (Ruang 202). Kegiatan berlangsung mulai pukul 13.30–15.45 WIB.

Film Lucy Shimmers and the Prince of Peace menjadi media bagi mahasiswa untuk melihat dan merefleksikan makna kasih melalui perspektif seorang anak kecil. Melalui kisah dalam film tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa kasih tidak hanya berbicara tentang kata-kata, tetapi juga tentang keberanian untuk hadir, mendekat, dan menunjukkan kepedulian kepada sesama.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan salah satu nilai E-CHRIST, yaitu “Humility” (Kerendahan Hati). Melalui refleksi dari film, mahasiswa Teologi didorong untuk meneladani kerendahan hati Yesus dalam pelayanan—sebuah kerendahan hati yang rela turun, mendekat, dan menyentuh mereka yang dipandang dunia sebagai orang yang tidak layak untuk disentuh.

Selain menjadi ruang refleksi, kegiatan ini juga membangun suasana kebersamaan antarmahasiswa. Para mahasiswa duduk bersama, menikmati film, serta berbagi snack untuk dinikmati bersama. Suasana tersebut menciptakan momen kebersamaan yang hangat dan mempererat relasi di antara mahasiswa Teologi. Melalui kegiatan ini, COF Teologi diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk berkumpul, tetapi juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk belajar menghidupi nilai kerendahan hati dalam kehidupan, pelayanan, dan relasi dengan sesama.

 

 



Resensi Film Lucy Shimmers and the Prince of Peace

Lucy Shimmers and the Prince of Peace merupakan film drama keluarga bernuansa Kristen yang disutradarai oleh Rob Diamond dan dirilis pada 2020, dengan durasi sekitar 88 menit. Film ini berkisah tentang Lucy Shimmers, seorang anak perempuan yang harus menjalani perawatan karena penyakit serius. Di rumah sakit, Lucy bertemu Edgar Ruiz, seorang narapidana yang sedang mengalami gagal ginjal dan keterasingan dari keluarganya. Pertemuan yang awalnya tampak sederhana tersebut berkembang menjadi persahabatan yang mengubah kehidupan keduanya. (Angel)

Kekuatan utama film ini terletak pada cara Lucy memandang manusia. Ketika orang lain melihat Edgar sebagai seorang kriminal yang ditentukan oleh kesalahan masa lalunya, Lucy melihatnya sebagai seseorang yang tetap membutuhkan kasih, perhatian, dan pengharapan. Dengan kepolosan dan iman kekanak-kanakannya, Lucy terus hadir bagi Edgar hingga perlahan ia mampu membuka diri dan menghadapi luka masa lalunya. Film ini dengan demikian mengangkat tema kasih tanpa syarat, pengampunan, penebusan, iman, dan kesempatan kedua. (Angel)
Secara teologis, film ini menarik karena menghadirkan kasih bukan terutama melalui perkataan besar, melainkan melalui kehadiran, perhatian, dan kesediaan mendekati orang yang tersisih. Lucy tidak membangun jarak berdasarkan status sosial Edgar. Justru, melalui relasi sederhana tersebut, muncul proses pemulihan dan perubahan hidup.

Meski alurnya cenderung sederhana dan emosional, pesan film ini kuat. Lucy Shimmers and the Prince of Peace mengajak penonton mempertanyakan cara mereka memandang orang lain: apakah seseorang hanya ditentukan oleh kesalahan masa lalunya, atau masih memiliki kemungkinan untuk menerima kasih dan mengalami perubahan? Film ini menjadi pengingat bahwa kerendahan hati dan belas kasih dapat menjadi jalan untuk menghadirkan pengharapan kepada mereka yang telah kehilangan harapan. (Angel)